5 Teknik Penggemukan Sapi : Kunci Sukses Usaha Sapi

Penggemukan sapi merupakan salah satu usaha yang menarik untuk dipelajari. Tak sedikit kisah sukses peternak yang meraup keuntungan dari sapi ini membuat orang tertarik untuk menggeluti bisnis ini. Kebutuhan daging sapi yang begitu besar di Indonesia membuat para beternak berfikir cerdas bagaimana menghasilkan sapi dengan bobot yang cukup tinggi.

Prospek usaha inipun sebenarnya banyak dilirik para pengusaha, bahkan pemerintah juga mendorong masyarakat untuk dapat beternak agar tercipta swadaya pangan di Indonesia khususnya untuk produksi daging sapi. Saat ini Indonesia masih mengandalkan sapi impor untuk memenuhi permintaan daging yang begitu tinggi. Padahal pada tahun 1970, Indonesia pernah menjadi eksportir sapi untuk kebutuhan negara lain. Sayang banget ya, semoga cita-cita swasembada sapi bisa terwujud!

Tujuan pembahasan artikel ini untuk memantik masyarakat agar mengetahui cara penggemukan sapi yang benar dan efisien. Penggemukan sapi merupakan salah satu tahapan dalam beternak sapi, yaitu proses meningkatkan berat badan sapi sebelum sapi tersebut dijual. Peningkatan bobot badan sapi ini akan berpengaruh dengan harga jual, semakin besar bobotnya maka keuntungan yang diperoleh peternak juga semakin besar. Untuk mencapai tujuan tersebut maka kita perlu mengetahui teknik apa saja yang bisa digunakan untuk menggemukan sapi secara baik dan efisien.

Teknik Penggemukan Sapi

Penggemukan merupakan usaha yang paling banyak digeluti masyarakat saat ini. Hal ini karena penggemukan merupakan usaha yang cukup mudah untuk dioperasikan. Penggemukan hanya perlu waktu sekitar 4 hingga 6 bulan tergantung jenis sapi, kondisi dan umur sapi yang dipelihara. Dengan singkatnya waktu pemeliharaan tersebut maka dapat diperkirakan keuntungannya berkisar antara 1 – 1,5 juta rupiah per ekor untuk sapi potong.

Ada 5 teknik menggemukan sapi yang bisa Anda coba. Kelimanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Teknik ini dapat diaplikasikan ke sistem pemeliharaan sapi yang telah Anda lakukan saat ini. Teknik ini bisa berjalan pada sistem pemeliharaan ekstensif (digembalakan), intensif (dikandangkan) ataupun semi-intensif (Kombinasi digembalakan dan dikandangkan). Adapun penjelasan mengenai kelima teknik tersebut adalah:

Pasture Fattening

Pasture Fattening merupakan sistem penggemukan sapi di padang penggembalaan. Maksudnya, sapi akan dibiarkan seharian di padang rumput tanpa peternak harus memberikan makanan tambahan lagi. Teknik ini banyak diterapkan di kawasan Indonesia Timur, seperti di Pulau Timor Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di pulau tersebut sapi hanya diumbar begitu saja di pdang savana. Sapi bebas untuk memakan rumput dengan batasan tembok batu karang yang memang sengaja dibuat untuk batas area tanah dan agar sapi tidak terlalu jauh berkelana.

gambar penggemukan sapi pasture fattening

Kelebihan Pasture Fattening

  • Peternak tidak perlu melakukan penjadwalan pemberian pakan
  • Tidak memerlukan pakan tambahan seperti konsentrat
  • Sapi dapat aktif bergerak dan kembali seperti kehidupan alaminya

Kekurangan Pasture Fattening

  • Memerlukan pakan hijauan, mungkin akan sulit di masa kemarau panjang
  • Kontrol terhadap sapi menjadi lebih sulit karena mereka menyebar
  • Waktu penggemukan cukup lama

Dry Lot Fattening

Ini merupakan kebalikan dari sistem pasture fattening. Sapi akan digemukkan menggunakan pakan konsentrat. Kondisi lingkungannya pun juga berbeda dengan pasture fattening, sistem dry lot fattening ini menempatkan sapi di dalam kandang bukan di padang rumput. Jumlah pakan hijauannya sendiri juga lebih sedikit dibandingkan pasture fattening. Perbandingan pakan hijauan dan konsentrat berkisar antara 40:60 hingga 20:80. Perbandingan pakan tersebut tentu saja harus berdasarkan bobot bahan kering (BK).

gambar penggemukan sapi dry lot fattening

Kelebihan Dry Lot Fattening

  • Efisiensi penggunaan pakan lebih tinggi karena terkontrol dalam satu kandang
  • Proses penggemukan lebih cepat
  • Kontrol kondisi sapi menjadi lebih mudah

Kekurangan Dry Lot Fattening

  • Sapi menjadi sangat bergantung pada makanan pemberian
  • Peternak perlu menyediakan pakan dengan porsi dan jadwal waktu yang tepat
  • Biaya pemberian pakan bisa tinggi
  • Adanya resiko sapi kembung / bloat karena pemberian pakan konsentrat ditambah sapi kurang aktif bergerak.

Kombinasi

Teknik kombinasi merupakan penggabungan antara pasture fattening dan dry lot fattening. Teknik penggemukan sapi dengan sistem kombinasi ini merupakan solusi dimana di daerah tersebut kadang kesulitan untuk mendapatkan pakan hijauan. Biasanya pada saat musim kemarau, sapi akan diberikan pakan berupa konsentrat di kandang. Apabila musim penghujan tiba atau ketika pakan hijauan berlimpah, maka sapi akan digembalakan di padang rumput.

Ada juga peternak yang menerapkan pemberian pakan konsentrat penuh ketika sapi akan dijual. Peternak sebelumnya memelihara dengan sistem pasture fattening/ digembalakan, ketika beberapa bulan sebelum sapi dijual, peternak akan beralih dengan memberikan pakan konsentrat penuh. Para peternak mengklaim bahwa cara ini akan menghasilan sapi yang lebih baik dibandingkan sapi yang dari awal masa penggemukannya diberi pakan hijauan dan konsentrat dengan porsi seimbang.

gambar penggemukan sapi kombinasi

Kelebihan Penggemukan Sapi dengan Teknik Kombinasi

  • Proses penggemukan lebih cepat dibandingkan pasture fattening
  • Efisiensi biaya penggemukan dengan penghematan konsentrat ketika pakan hijauan berlimpah
  • Kesehatan sapi akan terjaga karena bisa aktif dan pakan selalu terkontrol
  • Biaya pakan berkurang

Kekurangan Teknik Kombinasi

  • Penggemukan sapi akan lebih lama jika dibandingkan sistem dry lot fattening

Integrasi Sapi-Sawit

Bila Anda memiliki perkebunan kelapa sawit, maka teknik ini paling cocok untuk diimplementasikan. Perkebunan kelapa sawit adalah zona agroekologi yang sangat cocok untuk penggemukan sapi. Limbah-limbah dari kelapa sawit dapat diwanfaatkan untuk menggemukan sapi. Contoh limbah yang bisa dimanfaatkan dari kelapa sawit antara lain : bungkil inti sawit, pelepah daun sawit, serabut perasan buah sawit, lumpur sawit (sludge), tandan kosong dan cangkang kelapa sawit. Limbah-limbah tersebut dapat diolah menjadi pakan ternak ruminansia.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menggalakan program integrasi pemeliharaan sapi di perkebunan kelapa sawit. Proses integrasi tersebut termasuk dalam Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang telah populer di negara lain. Selain itu integrasi ini juga menciptakan sistem zero waste yang sangat ramah lingkungan. Artinya tidak ada limbah yang terbuang dari perkebunan kelapa sawit. Keuntungan yang dimiliki pemilik perkebunan pun juga akan meningkat.

gambar penggemukan sapi sistem integrasi sapi-sawit

Kelebihan Penggemukan Sapi dengan Integrasi Sapi-Sawit

  • Zero waste, artinya seluruh bagian kelapa wasit tidak terbuang sia-sia dan ramah lingkungan.
  • Keuntungan perkebunan menjadi lebih besar.
  • Biaya penggemukan sapi berkurang cukup signifikan.

Kekurangan

  • Tidak bisa diterapkan diluar perkebunan kelapa sawit.

Kereman

Kereman merupakan teknik penggemukan sapi secara tradisional yang banyak dilakukan di Indonesia. Teknik ini sebenarnya cuma ada di Indonesia, Banyuwangi, Wonogiri, Magetan, Wonosobo, Bondowoso, Lamongan, Sulawesi Selatan, dan Aceh terkenal sebagai daerah yang banyak menganut sistem penggemukan ini.

Sapi yang dihasilkan dari teknik kereman biasanya disebut dengan sapi kereman. Sistem ini sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan sistem dry lot fattening. Sapi akan dikandangkan dan diberi pakan konsentrat dan hijauan, yang membedakan hanya teknik peramuan pakan saja. Biasanya petani akan mempertimbangkan pemberian pakan dari ketersediaan bahan pakan. Misalnya pada saat itu hijauan lebih banyak maka porsinya yang akan lebih banyak. Jika musim kemarau tiba maka petani akan memberikan konsentrat yang lebih banyak

penggemukan sapi kereman

Kelebihan

  • Proses pemeliharaannya sederhana berdasarkan ketersediaan pakan
  • Biaya pakan dapat berkurang
  • Kontrol sapi menjadi lebih mudah

Kekurangan

  • Penggemukan sapi menjadi kurang optimal karena sering berganti pakan.

Demikian pembahasan mengenai kekurangan dan kelebihan teknik penggemukan sapi yang dapat Anda terapkan. Pastinya Anda lebih tahu teknik mana yang lebih tepat untuk diterapkan di daerah Anda. Semoga dengan artikel ini dapat memberikan gambaran untuk memulai usaha menggemukan sapi di wilayah Anda. Tak lupa kami juga mengajak Anda untuk bergabung di fanspage satwapedia untuk bisa saling berbagi dan bertemu para pecinta satwa. Sekian dan terimakasih.


Referensi:
Tim Penulis Agriflo. 2012. Sapi: Dari Hulu ke Hilir dan Info Mancanegara. Jakarta: Agriflo (Penebar Swadaya Grup)

Add Comment